Cerpen Zaman Jadoel Saya

Pertanyaan yang tak terjawab

Bukan keinginan Ratri dilahirkan hina. Namun manusia tak pernah memilih dari mana ia lahir dan kenyataan hiduplah yang harus membuatnya selalu tabah. Ditengah hingar-bingar pekik hinaan yang dihamburkan kepadanya Ratri tak pernah mengeluh. Sedari kecil Ratri tak pernah mendapat kasih sayang penuh dari ibunya, apalagi seorang ayah. Ratri tak pernah tahu dari benih-benih siapa ia lahir. Ratri selalu ingin tahu dan ia selalu ingin bertanya kepada ibunya, siapa ayahnya? tapi ia tak pernah bisa bertemu ibunya seperti layaknya anak lain, apalagi buat bicara panjang lebar, Ibunya terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Ia tak pernah tahu betapa ingin Ratri memeluknya, menciumnya dan menjadikannya pelindung dari muntahan caci-maki orang yang selalu mengucilkannya. Dan bagaimana pula ia bisa berbincang sedangkan ibunya selalu tak ada dirumah, Pergi sore pulang pagi. Sedangkan Ratri setiap pagi-pagi sekali harus berangkat sekolah yang jaraknya lumayan jauh. Itulah kehidupan Ratri selama ini. Ratri hanya bisa bertanya dalam hati, siapa para lelaki yang selalu berlalu-lalang di dalam rumahnya. Ia juga tidak pernah tau apa pekerjaan ibunya selama ini. Ratri, gadis lugu ini selalu ditemani Si Salju, kucing putih kesayangannya, pemberian ibunya. Ratri sering bicara sendiri dikamaarnya ditemani si Salju yang setia. Ia sering mengadukan nasibnya pada Salju, namun lebih sering menangis karena tak pernah bisa mendapat jawaban dari Salju. Bagaimana bisa menjawab, mengerti saja tidak apa yang Ratri katakan padanya. Suatu ketika ibunya sakit keras, mungkin kecapean kata Ratri, inilah pikir Ratri kesempatan untuk dekat dengan sang ibu dan juga bertanya pada sang ibu, hanya saat inilah pikirnya. Ratri lugu mendekati kamar ibunya yang tertutup rapat. Ratri mengetuk dengan lembut, namun tak ada jawaban. Ratri perlahan-lahan membuka pintu kamar yang sunyi itu, perlahan namun pasti. Astagfirullah, ia sangat terkejut melihat ibunya sedang sujud. Seumur hidupnya baru kali ini ia melihat ibunya menyentuh sajadah. Ya Allah, akhirnya kau bukakan mata ibuku ujar Ratri, terlihat jelas di wajahnya bahwa ia gembira. Ratri menunggu beberapa saat. Menunggu ibunya selesai sholat, namun ibunya tak pernah bergerak lagi, Ratri mendekati ibunya, menyentuh pundaknya. Y Allah, dingin, beku, sunyi. Ratri membalikan tubuh rapuh itu, ibunya telah pergi, pergi jauh sekali darinya, tak pernah akan kembali lagi dengan sisa air mata di sudut mata tua itu. Ratri sadar, inilah saat pertama dan terakhir ia bisa melihat ibunya sholat. Kata dokter yang mengotopsi, ibunya meninggal akibat penyakit laknat. Ratri tahu akhirnya ia anak seorang tuna susila, dan karena itu pula tak seorangpun keluarganya yang datang menjenguknya ketika sang ibu pergi selamanya, mereka jijik. Hanya satu dua atau tiga orang tetangga dekatnya yang datang dan itupun hanya sebentar. Kini baginya dunia bertambah sepi, hidupnya sudah tak berarti lagi, tak ada yang bisa mendengar keluhannya, hanya Salju saja yang setia menemani. Ratri sendiri dengan menyisakan satu pertanyaan dibenaknya, Siapa ayahnya?

———————————————————————————————————————————————————-

hehehe…ini cerpen udah lamaaaaa banget, sampai saya lupa kapan saya nulisnya, tapi kira-kira SD kelas 6 atau pas saya kelas 1 SMP. Sebenernya udah lama banget pengen diketik, tapi dulu saya ga ngerti ngetik dan kertas-kertas kumpulan cerpen saya jaman dulu juga sempat nyelip ga tau dimana. Ketemu sih sebagian akhirnya kira-kira setahun yang lalu ketika saya liburan dan pulang ke rumah saya di Belitung, waktu itu niatnya pengen beresin buku-buku jaman SMA dulu kan sudah pada usang dan ga kepakai. Eh malah saya nemu arsip-arsip lama saya, diary-diary saya yang bikin saya ngakak dan mikir betapa lugunya saya dahulu (sekarang masih sih dikit..haha) dan betapa manisnya cinta-cintaan jaman sekolah dulu, kalau kata lagu yang dinyanyiin sebuah grup band yang lagi naik daun itu, itu namanya cinta monyet…hehehe. hmm mengenai diary, saya baru nyadar ternyata diary-diary saya jaman sekolah itu sepertinya sempat dibaca orang, entah itu ibu atau adik saya yang iseng pas saya di Jakarta, saya tahu karena kotak tempat saya menyimpan rahasia tersebut sudah berubah letaknya dan dalam kotak itu sudah ga beraturan benda-benda didalamnya…waduh malunyaa…T_T”

Nah diantara tumpukan diary itu nemulah saya sama kertas-kertas cerpen saya jaman dulu. walau sebagian entah hilang kemana. tapi dari pas nemuin lagi baru sempat ngetik sekarang. berhubung ini cerpen dibuat jaman baheula, jaman saya baru belajar nulis jadi masih banyak kata-kata yang ga efektif. dan ceritanya mungkin agak ga runtut…hiks (walau kalau sekarang disuruh nulis lagi hasilnya mungkin ga jauh beda sih…hihi) tapi memang tulisannya ga saya benerin, dibiarkan apa-adanya seperti yang saya tulis dikertas, biar tetep ori. >_<“

Advertisements