Sesi Galau Kawan: Kenangan, Keep It or Delete It?

Kira-kira 3 hari yang lalu ketika saya iseng-iseng “berselancar” di antara blog-blog teman-teman saya, ga sengaja saya membaca satu tulisan dari blog seorang sahabat. Saya sedikit “tercolek” ketika membaca isi tulisan tersebut, karena saya pikir apa yang dia ungkapkan benar-benar kerap terjadi di kehidupan saya pribadi, atau mungkin kalian?

Sebenarnya bisa saja saya kasih link ke blog sahabat saya itu, biar kalian baca sendiri, tapi entah mungkin saya lagi “centil”, saya memilih untuk menuliskannya dengan versi saya sendiri. hehe

Kira-kira begini tema yang sahabat saya bahas, “bersediakah kamu menghapus kenangan?”
Seperti yang sahabat saya katakan, sampai sekarang saya pun bingung bagaimana menghapus kenangan?.

Sedari kecil hingga saat ini banyak kenangan akan hal-hal yang pernah saya lakukan dan lalui, baik itu kenangan manis mau pun pahit. Seperti kenangan saya ditabok ayah saya ketika saya nakal, kenangan ketika ibu saya membacakan sebuah dongeng untuk saya dan adik-adik saya ketika menjelang tidur, kenangan kenakalan saya menyandera kunci motor kakek saya, karena “maksa” dikasih uang jajan, kenangan saya bersama teman-teman yang hampir memasukan obat tidur di minuman satpam sekolah demi bolos sekolah atau kenangan ketika saya jatuh cinta untuk pertama kalinya 😛 . Namun jangan salah, banyak di antara kita, mungkin saya sendiripun pernah berusaha menghapus paling tidak sebuah kenangan, terutama kenangan pahit yang kita rasa suatu hari akan membangkitkan kembali rasa sakit yang ada. Namun pernahkah kita berfikir kalau suatu hari justru kenangan-kenangan itulah yang akan membantu kita untuk tetap tegar *cieee bahasanya… 😛

Mari kita lanjut ke sesi galau kawan..hahaha

Seperti yang tadi saya sebutkan, mungkin sebagian dari kita pernah berharap suatu kenangan pahit hilang begitu saja, atau kalau bisa kembali ke masa sebelumnya agar ga ada yang namanya kenangan pahit. Katakanlah kenangan akan patah hati.
Siapa sih yang ingin ngalamin yang namanya patah hati?. Sudah bertahun-tahun bersama, sudah merasa sayang sampai berkorban apa saja buat si dia, sudah dibela-belain kena “damprat” orang tuanya pas maen ke rumahnya, dan kalau ibarat kata uang rokok pun dipotong cuma buat mikirin supaya malam minggu bisa “jajanin” si dia ke tempat yang dia suka. Lalu akan timbul pertanyaan dalam diri sendiri ” Kurang apa sih gw”??. Kalau kata seorang teman, sebut saja Mr. X , timbulnya sakit hati dan muncul pertanyaan seperti itu, karena kita mengharapkan lebih dari apa yang kita berikan, kita mengharapkan balasan dari apa yang kita usahain buat si dia, kita menjadi sosok yang pamrih. Cuma, kalau dipikir, siapa sih yang ga pengen mendapat balasan manis dari apa yang kita usahain. Benar, hanya saja justru itu yang akhirnya membuat kita sakit hati berlebihan bahkan ga jarang ada yang pengen bunuh diri gara-gara patah hati, apalagi kalau mengingat-ingat kenangan yang sudah kita buat bersama dia, kenangan akan pengorbanan kita buat dia,  kadang kita pun berfikir, lebih baik semua kenangan itu hilang, atau ada pula yang berharap  kalau semuanya ini cuma mimpi buruk, dan ketika bangun semuanya akan kembali normal seperti yang kita harapkan.

Kalau kata teman saya, hal pertama yang mesti kita lakuin adalah, menyadarkan diri kita bahwa ini adalah kenyataan yang harus dihadapi. Memang bukanlah hal yang mudah untuk meyakinkan diri sendiri bahwa hubungan yang sudah kita bangun dengan sepenuh hati harus berakhir begitu saja bersama harapan-harapan kita bersama si dia. Tetapi membiarkan diri sendiri terjebak harapan-harapan hampa bahwa suatu saat mungkin kita akan bersama lagi, juga bukan sebuah penyelesaian terbaik. Cobalah untuk menerima dan berlapang dada. Tanamkan dalam diri kita sebuah pemikiran kalau bahwa hubungan itu telah dipertahankan sebaik mungkin namun sayangnya tidak bisa berjalan sebagai mana yang diharapkan. Dengan begitu kita jauh lebih bisa menerima kenyataan, meskipun sedikit demi sedikit. Be strong, guys! 🙂

Menangislah sekencang  mungkin saat rasa sakit itu datang, setiap orang punya cara sendiri untuk mengobati rasa sakitnya, seperti seorang teman saya yang baru-baru ini patah hati, mengkonsumsi alkohol sedikit lebih banyak dari biasanya, berharap apa yang dia rasakan dapat sedikit mereda (semoga saya salah ya kawan huehuehue), ada pula yang memilih untuk “Klabing” alias klayapan bingung ketika rasa galau menghampirinya (eehh itu saya yah -_-” …haha ) 😛

Apapun itu setiap orang punya cara masing-masing agar bisa meluapkan perasaan sakit dan kecewa tersebut. Namun jangan berlama-lama, jangan pernah biarkan rasa sakit dan kecewa menguasai kita, yakinkan diri kita bahwa suatu hari apa yang kita tangisi hari ini, akan membuat kita tersenyum atau bahkan terbahak ketika mengenangnya. Semuanya masalah di dunia ini selalu ada akhirnya, hanya masalah waktu kalau kata Mr. X 🙂

Jangan pernah berusaha menghapus kenangan pahit itu. Karena semakin kita berusaha, sekuat apapun kita ingin mengenyahkan kenangan itu, maka semakin kuat pula kenangan tersebut tertanam di kepala kita. kalau kata sahabat saya dalam tulisannya,

Manfaatkan kelebihan-kelebihan yang dikandung kenangan tersebut untuk dijadikan pembelajaran dalam menghadapi kasus serupa yang mungkin akan terjadi di masa mendatang. Akan ada masanya kamu  mengenangnya, tersenyum, dan mengakui, “Saya beruntung pernah mengenalmu

Dan jika sebuah pertanyaan serupa yang ditujukan kepada teman saya, ditujukan pula kepada saya, ” bersediakah  kamu menghapus kenangan? maka jawaban saya akan sama, TIDAK. Kenangan adalah sesuatu yang luar biasa berharga bagi saya. Dimana setiap kejadian dalam hidup saya, apa yang saya rasakan dari sejak saya menyadari keberadaan saya di dunia hingga nanti Tuhan memanggil saya, saya rekam dalam “memory card” dengan kemampuan menyimpan “unlimited” yang  Tuhan ciptakan khusus buat saya, anda, manusia. Mengutip kata-kata sahabat saya, “Dengan kenangan, kita memiliki pengalaman beragam yang tidak bisa sama didapatkan oleh semua orang” atau saya tambahkan bisa didapatkan orang lain namun dengan taste serta sensasi yang berbeda pada setiap orang. 😛

Pernahkah kita sadari kalau suatu hari ketika kita menjadi tua, hal-hal yang kita miliki adalah kenangan. Itulah mengapa kalau kita berbincang dengan orang dengan usia lanjut, katakanlah kakek kita, isi perbincangannya tidak jauh dari cerita di masa mudanya, cerita perang ketika ia ikut dalam sebuah misi menyelamatkan bumi pertiwi yang membanggakannya, cerita ketika sedang pe-de-ka-te sama nenek kita, atau cerita semasa kanak-kanaknya, itupun jika ingatannya belum terhapus dengan penyakit yang namanya pikun. Kenapa? karena yang dia miliki hanyalah kenangan-kenangan itu. Ketika orang menjadi tua, orang cendrung hidup dari masa lalu. Sedangkan masa depan baginya gelap dan yang ia pikirkan adalah kematian dan Tuhan (bagi saya inilah salah satu penyebab kenapa banyak manusia baru tobat ketika sudah mulai menua). Berbeda dengan orang yang berumur muda, masa depan masih bisa direncanakan, semisal nanti ingin punya istri seperti apa, ingin punya anak berapa, atau ingin menjalani hidup seperti apa. Hal-hal seperti itu yang kita masih kita bicarakan ketika kita masih punya banyak kesempatan untuk meraihnya. tetapi tidak bagi orang tua, tentu saja umur menjadi sedikit banyak menjadi penghambat dan fisik tentu sudah tidak mendukung untuk bekerja lebih keras apalagi untuk mendapatkan istri secantik dan seseksi Rosie Huntington Whiteley di film Transformer 3, lain halnya kalau anda adalah bos “Playboy” tentu saja.  😛

Penting bagi kita menyadari, adalah penting untuk berada di sekitar mereka, walau hanya untuk mendengarkan cerita masa lalu yang entah sudah berapa kali diceritakan ulang oleh mereka. Saya pikir, kebahagiaan yang mereka peroleh adalah ketika mereka bisa mengenang apa yang pernah mereka alami dan lalui, selain melihat anak cucu mereka bahagia. Tentu saja agar mereka tidak merasakan sendirian menghadapi hari tuanya.

Saya rasa nanti ketika saya tua pun saya tidak ingin sendirian, seperti Mr.X bilang, ” itulah kenapa saya berteman dengan kalian yang umurnya jauh di bawah saya, saya tidak ingin sendirian ketika saya menjadi tua!” saya sungguh sependapat dengan kata-kata Mr. X tersebut. Tidak ada orang yang ingin sendirian saya rasa. Walaupun nanti mungkin saya tidak secerdas Mr. Om Matt (eh kesebut tuh kaaan 😛 ) yang merencanakan hari tuanya ingin seperti apa, paling tidak, ada kenangan yang tidak membuat saya merasa sendirian itupun kalau saya tidak kena penyakit orang tua, pikun 🙂

NB:

  •  Isi curhatan saya kali ini banyak kutipan yah…ahahhaha :p
  •  Makasih untuk sahabat saya Yulanda Savitri yang karena tulisannya yang menyentil saya, dan berhasil sedikit membuang kegalauan saya atau bertambah galau???hahahha  🙂 miss u sist! :*
  • Makasih yah Om Matt dan teman-teman MoVe yang lain atas sesi galaunya Kamis malam lalu :D, selalu ada yang bisa dipetik dari setiap pertemuan.

Advertisements