Saya dan Akrobat

Sebenernya ini mestinya diposting bulan September kemaren, cuma karena lupa-lupa mulu yah sudah baru sempatnya sekarang. ๐Ÿ™‚

Saya sangat suka dengan permainan akrobat sedari kecil. Biasanya pertunjukan akrobat seringkali dimasukan dalam pertunjukan sirkus, namun untuk ukuran tempat kelahiran saya, pulau Belitung, hiburan semacam ini sangat sulit ditemui ketika saya kecil. Yang saya ingat, pertama kali saya melihat pertunjukan sirkus ketika ada pameran budaya di kota kelahiran saya. Pertunjukan seperti itu hanya diadakan setahun sekali, jadi otomatis saya hanya bisa menyaksikan pertunjukan akrobat setahun sekali, selain pada saat seperti itu, tidak mungkin saya bisa menonton pertunjukan sejenis. Biasanya sirkus yang dipertunjukkan dibawa khusus dari ibukota, dan memakan biaya lumayan besar untuk ukuran tahun 90’an,itu pun sirkus kecil-kecilan, karena itulah sangat jarang sirkus datang ke daerah saya ketika itu.

Sirkus

Sebenarnya jika melihat televisi terkadang ada channel yang biasanya pada waktu-waktu tertentu menayangkan pertunjukan sirkus dari luar negeri, namun sewaktu saya masih kecil, masih sangat jarang orang yang punya televisi di daerah saya, termasuk di rumah saya. Jangankan televisi kawan, bahkan ketika saya belum masuk TK, saya masih sempat merasakan hidup tanpa listrik, sehari-hari keluarga kecil saya menggunakan lampu teplok, yang dinyalakan dengan menggunakan sumbu dan minyak tanah, lampu yang menurut saya sedikit aneh.

Bagaimana tidak, selain karena bentuknya yang cukup ajaib, yang sangat saya herankan pada bagian belakang lampu tersebut biasanya tertempel gambar wajah seorang perempuan cantik dengan gincu menor dan dikelilingi bunga-bunga. Sebenarnya dalam hati saya sedikit mengagumi perempuan di lampu teplok itu. Terkadang muncul pikiran polos saya, nanti kalau sudah besar, saya ingin wajah saya terpampang di belakang lampu teplok, biar terkenal seperti perempuan itu. ๐Ÿ˜› lalu ketika mulai besar saya bertanya sendiri, kenapa tidak gambar pemandangan saja, atau lebih baik jika diukir-ukir saja biar terkesan antik?, dan sayapun menjawab sendiri pertanyaan saya tersebut, mungkin dengan dengan maksud iklan, bahwa cahaya lampu teplok seterang gincu yang di pakai perempuan itu, atau bisa juga sebagai strategi pariwara (analisis saya berdasarkan ideologi dan mitos), lampu teplok digunakan di rumah, rumah identik dengan rumah tangga, kegiatan rumah tangga termasuk berbelanja untuk rumah tangga identik diatur oleh ibu, ibu adalah seorang wanita, wanita biasanya ingin tampil cantik, wanita cantik selalu tampil di lampu teplok,ย mitosnya adalah wanita yang memakai lampu teplok adalah wanita cantik, karena itu ibu yang cantik harus membeli lampu teplok dan akhirnya saya sadar, sedikit banyak alasan saya ingin wajah saya tertempel di lampu teplok adalah saya ingin jadi wanita cantik kalau sudah besar, dan wanita cantik selalu muncul di lampu teplok. Korban iklan ๐Ÿ™‚ LOL

Back to topic…

Karena ga punya televisi, terkadang beberapa kali saya ‘numpang’ nonton di rumah saudara yang memiliki televisi, kebetulan rumah saudara-saudara saya tidak terlalu berjauhan letaknya, namun itupun sangat jarang, karena ketika acaranya ditayangkan di atas jam 6 petang, kami anak-anak, harus sudah masuk rumah dan bersiap untuk tidur. Karena itulah pertunjukan sirkus di pameran budaya menjadi jadwal tahunan yang selalu saya tunggu-tunggu, selain karena memang jarang sekali menonton pertunjukan akrobat secara langsung,ย  saya bisa menonton pertunjukan hingga sedikit malam, karena pergi bersama orang tua. ๐Ÿ˜›

Kegandrungan saya dan mungkin adik-adik saya akan akrobat pernah terbukti membawa bencana. Ini terjadi ketika kami mencoba salah satu gaya dalam atraksi akrobat ala saya.

ย Hari itu saya ingat sekitar jam 1-2 siang, seharusnya ini adalah waktu saya dan adik-adik tidur siang, tapi entah mengapa, kami hanya bermain-main di dalam kamar. Saat itu, Teguh, adik laki-laki pertama saya masih duduk di bangku TK dan saya duduk di kelas 1 SD. Ketika itu kami memiliki sebuah lemari yang terbuat dari plastik. Lemari itu sudah mulai rusak, dimana plastiknya sudah robek di bagian bawahnya. Karena memang kami punya tangan yang lumayan iseng, bagian robek itu kami tarik memanjang ke atas hingga bisa kami jadikan mainan. Di depan lemari terdapat tempat tidur besar yang terbuat dari kayu jati, hingga kayunya sangat keras dan padat. Ketika itu adik saya berdiri di tepi tempat tidur dengan badan menghadap lemari sambil memengang ujung plastik bagian bawah yang sudah terlepas, kemudian ia angkat tinggi-tinggi. Saya yang berperan menjadi pemain akrobat, meloncat-loncat untuk meraih plastik tersebut. Sesekali saya memanjat lemari kayu yang ada di sebelah lemari plastik dan kemudian meloncat meraih tali plastik yang membentang. Hingga entah loncatan ke berapa kalinya, adik saya kehilangan keseimbangan dan… GUBRAAAKKK!! ia jatuh dengan kepala ke bawah yang sebelumnya membentur ujung tempat tidur. Seketika dari pelipisnya yang ketika itu sedang mengalami “bisulan” sebesar kelereng “ngocor” darah segar, robek. Panik, saya hanya bisa melongo dan menangis. Adik laki-laki kedua saya, Yogi, yang tadinya tertawa-tawa menonton pertunjukan gratis dari kami berdua, ikut menangis. Ibu, yang tadinya sedang berada di dapur, berlari ke kamar karena mendengar ketiga anaknya yang tadi tertawa-tawa tiba-tiba menangis, demi melihat darah segar dari kepala Teguh, Ibu berteriak dengan wajah panik luar biasa, “Astaga!! kenapa begini?!!?”, begitulah yang kira-kira Ibu katakan. Karena Ayah sedang bekerja, ibu berlari ke rumah saudaraย yang tinggal tidak jauh dari rumah, meminta bantuan untuk membawa Teguh kerumah sakit. Seingat saya, Teguh pulang kerumah dengan 4 jahitan di kepalanya, tepat di tempat dimana bisulnya tadi bertengger dengan sangat manis. Karena saya anak tertua dan berada di “TKP” saat kejadian, saya pun sukses diiintrogasi oleh ayah tentang kronologis kejadian. (-_-‘)

Bersama Teguh dan Yogi dan tante luci

Kata orang, di balik kesusahan pasti ada pelajaran dan sesuatu yang baik bisa diambil. Paling tidak saya jadi jera melibatkan adik-adik saya dalam permainan akrobat ala saya, dan yang paling penting adalah, adik saya yang tadinya sering bisulan, setelah bisul yang ayah saya sebut “induk bisul” tersebut pecah, sejak itu dia tidak pernah bisulan lagi hingga saat ini. ๐Ÿ˜›

Saya adalah anak perempuan ayah yang besar bersama kedua adik laki-laki, dan terbiasa dididik dengan gaya laki-laki yang lumayan keras. Saat kecil saya lebih sering dan nyaman bergaul dengan anak laki-laki (sampai saat inipun teman saya lebih banyak laki-laki dari pada perempuan :P) . Berantem dan dikeroyok oleh segerombolan anak-laki-laki sudah menjadi jadwal rutin saya di sekolah ketika SD, tak heran kerap kali saya pulang dengan baju kotor bekas telapak sepatu di baju putih saya, dan ayah sayapun lumayan sering dipanggil ke sekolah. (-_-‘) maaf ayah haha

Setelah jera melibatkan adik-adik berakrobat ria, bukan berarti saya tobat bermain permainan berbahaya tersebut. Karena seperti yang saya sebutkan tadi, teman saya kebanyakan laki-laki, otomatis permainan saya ketika kecil kebanyakan berbau laki-laki, sebut saja kelereng, bola gebok, ngejar layangan putus, dll, walaupun bukan berarti saya juga tidak pernah bermain boneka dan masak-masakan ya ๐Ÿ˜›

Bersama Teguh, Rambut saya ga pernah lebih panjang dari itu sewaktu kecil ๐Ÿ˜›

Bermain bersama anak laki-laki sedikit banyak membuat kesukaan saya pada akrobat sedikit tersalurkan. Saya sering kali manjat pohon, dengan tujuan hanya untuk melompat, manjat lagi melompat lagi. Semakin tinggi pohon yang saya panjat, semakin bahagialah perasaan saya. Ada satu permainan yang benar-benar saya sukai, dan saya dapat melakukannya dengan baik. Saya sebut permainan itu “permainan kera”. Bagaimana tidak seperti kera, kita dituntut harus bisa membalikan badan sambil bergelantungan di dahan pohon. Caranya adalah kedua tangan menggantung di dahan pohon, kemudian kedua kaki yang menggantung, diangkat tinggi, lalu pelan-pelan kedua kaki tersebut dinaikan hingga sejajar kepala, lalu masukan kedua kaki di atas kepala di antara kedua pergelangan tangan yang sedang menggantung. Lalu, dorong kaki masuk terus, hingga badan dan kaki menekuk, kemudian lepaskan tangan, dan huuff kaki menapak di tanah. benar-benar seperti kera..hahahhahaha

Butuh kekuatan besar pada tangan untuk mengangkat badan, dan keberanian besar untuk melepaskan pegangan ketika membalikan badan, karena kalau tidak seimbang, kita bisa terjungkal dan mengalami patah tulang. Dijamin saya ga mungkin melakukannya kalau dulu badan saya tidak kurus sekali ๐Ÿ˜›

Dan…
Di akhir bulan september kemarin…saya tertegun ketika datang ke Jak-Japan Matsuri, festival yang menampilkan kebudayaan Jepang di Jakarta yang diadakan setahun sekali di Monas. Apa pasal? Yuph sebenernya lebar kali panjang kali tinggi tadi saya cerita cuma mau bilang, kalau di Jak-Japan, a group of acrobats dari Jepang turut mengisi acara sore itu. Sebenarnya saya sudah tau kelompok yang menamakan diri Nakamura ini sudah berada di Jakarta sejak sekitar seminggu yang lalu. Mereka mengadakan beberapa kali pertunjukan di Taman Ismail Marzuki, namun karena harga tiketnya lumayan mahal buat ukuran dompet saya, sekitar 400 ribu per sekali pertunjukan, saya sedikit mengurungkan niat menontonnya. Ketika saya tahu hari itu mereka melakukan pertunjukan di Monas (saya baru tahu ketika tiba di TKP), saya luar biasa senang. ๐Ÿ˜›
Sedikit info menarik tentang Nakamura Japan, kelompok yang didominasi wanita ini, tidak hanya sekedar berakrobat, namun menari dan bernyanyi sambil melompat-lompat. Menarik ๐Ÿ™‚
Kebetulan saya membawa kamera waktu itu jadi saya sempat mengambil beberapa gambar mereka walaupun hanya bisa mengintip-ngintip karena sayapun terjepit saat menonton,ย  penontonnya rame banget, maklum saya pendek dan beberapa kali pandangan saya ketutup punggung orang, resiko gratisan (-_-‘)

Nakamura Japan sedang menari

Perutnya bikin saya iri *lirik perut sendiri*

Kuat banget ini ๐Ÿ˜›

take a breath

Siap-Siap

Nice

Sayangnya saya ga bisa ngambil gambar ketika mereka sedang melompat-lompati tali, ketika melompati papan tinggi, dan melewati lingkaran besi, karena saya terlalu sibuk melompat-lompat sendiri, mencari celah agar bisa melihat atraksi mereka (-_-‘!)

Saya senang bisa melihat pertunjukan akrobat yang seperti ini lagi >_<”
Sesuatu yang saya sukai semenjak kecil ๐Ÿ™‚

Advertisements