Belitung Part 1; Berangkaaaat!! :)

20 Februari 2012

Tanggal 20 merupakan hari yang sedikit membuat saya merasa deg-degan. Sebenarnya bukan karena hal yang penting namun, di tanggal ini  merupakan hari kepulangan saya ke pulau kelahiran saya setelah hampir 7 bulan saya tidak pulang. Bukan karena terlalu lama tidak pulang, tentu saja 7 bulan bukanlah waktu yang terlalu lama, karena sebelumnya saya pernah lebih lama dari ini tidak kembali. Hal ini karena beberapa masalah yang belakangan muncul, konflik dengan orang-orang terdekat, hal yang tidak bisa saya ceritakan di sini secara detail.

Tadinya saya bahkan tidak merencanakan pulang dalam waktu dekat, karena beberapa kendala seperti jadwal SP yang saya ambil, dan jadwal kerja part time saya setiap hari sabtu dan minggu membuat saya berfikir ulang untuk menginjakan kaki di tempat yang belakangan tekenal dengan sebutan negeri laskar pelangi tersebut. Namun, setelah bernegosiasi dengan rekan kerja, dia bersedia menggantikan saya sementara selama saya pulang, akhirnya saya memutskan untuk pulang juga. Meskipun hingga H-3, saya sempat juga ragu, namun ternyata si emak sudah memesankan tiket untuk saya, akhirnya sayapun menyerah. 😛

Jadwal saya sedikit sibuk belakangan ini menyebabkan saya sama sekali tidak sempat packing barang hingga jam-jam terakhir menuju jadwal keberangkatan, sedikit menyebabkan saya kalang kabut. Hari minggu saya baru pulang dari kantor dan harus mampir ke rumah partner saya demi meminjam kamera yang saya rencanakan untuk men-capture beberapa wilayah Belitung. Jadilah saya begadang sampai larut malam, padahal saya seharusnya berangkat pagi-pagi sekali. Apalah daya saya -_-

Sebenarnya partner saya dengan baik hati sekali bersedia mengantarkan saya hingga bandara. Namun, saya tahu dia pasti tidur sangat larut menyelesaikan beberapa pekerjaannya jadi, saya memintanya cukup mengatar saya sampai terminal Damri pasar minggu. Pagi itu diputuskanlah bahwa ia akan sampai kosan jam 05.30 pagi. Jam 4 pagi saya kembali terbangun, dan mendapati sms si partner yang masih sempat menyapa saya “eteeeeeeek”, hohoho saya tahu dia belum tidur, firasat saya akan ada sedikit pergeseran rencana. dan firasat saya nantinya terbukti benar. 😛

Jam di kamar sudah menunjukan pukul 05.30 pagi namun belum ada kabar apa-apa dari sang partner. Saya pikir dia pasti telat atau tiba-tiba sudah ada di depan pintu saya karena terkadang dia memang datang tiba-tiba, sayapun kembali menanti dengan harap-harap cemas sembari menatap 4 buah tas yang harus saya bawa. Alarm di handphone saya berbunyi, menandakan hari telah berganti jam kembali, kali ini jam 06.30. “ga bisa dibiarkan”, kata hati saya. Meskipun sedari tadi sudah diSMS hingga ditelpon namun, ga ada tanda-tanda kehidupan dari handphone diseberang sana. Saya ambil plan B. Dengan sedikit tergesa saya berjalan menelusuri gang yang menghubungi kosan saya dengan jalan komplek perumahan di jalan rambutan. Untung saya tidak membawa barang-barang berat dan besar, hanya tas kecil berisikan dompet dan handphone, saya dengan leluarsa dapat melewati gang sempit tersebut. Terlihat anak-anak SD tengah mengikuti upacara bendera rutin senin pagi di halaman SD tak jauh dari kosan saya. Sembari berjalan, teringat kembali masa-masa sekolah ketika dahulu sering ditugasi menjadi salah satu petugas upacara semasa SD. Kenangan saya segera saya enyahkan karena saya harus sedikit mempercepat langkah kaki, tujuan saya kali ini, mencari tukang ojek.

Mencari tukang ojek pagi itu bukanlah perkara yang sulit karena sekitar 200 meter berjalan saya sudah menemukan pangkalan ojek dan si bapak  ojek siap mengantarkan saya ke tempat tujuan yang saya inginkan. Setelah menyampaikan apa yang saya inginkan, segera si bapak mengantar saya kembali ke kosan, mengambil 4 tas yang tadi saya tinggal. Daerah kosan saya adalah daerah yang lumayan padat penduduk dan harus melewati gang sempit yang lebarnya hanya muat untuk 1 badan orang dewasa. Memang terkadang ada beberapa motor yang bisa lewat, namun itupun dengan susah payah. Mobil tidak mungkin masuk tanpa memutar melewati rumah sakit siaga, pasar minggu, hingga jika saya memaksa naik taksi pun sungguh akan merepotkan, padahal saya tidak punya waktu banyak. Setelah pamit pada penjaga kosan saya berangkat ke terminal Damri pasar minggu.. Meskipun jarak ke terminal tidaklah terlalu jauh namun, karena prediksi jika lewat pasar minggu akan sangat macet maka si bapak memutuskan melewati jalan-jalan tikus. Melewati rumah-rumah penduduk yang saling berdempet yang hanya menyisakan sedikit jalan bagi  motor sepertinya bukanlah pekerjaan mudah. Namun, melihat kelihaian si bapak berkelok-kelok walau dengan sedikit susah payah karena membawa barang yang lumayan besar, tidak saya ragukan lagi bahwa si bapak sudah terlatih melewati jalan sejenis ini. Pukul 06.50 saya tiba di terminal, syukurlah bis belum berangkat meskipun 5 menit kemudian bis akhirnya berangkat juga. Kalau saya telat sedikit saja saya harus menunggu 30 menit lagi untuk keberangkatan selanjutnya, dan jika itu terjadi bisa dipastikan saya akan ketinggalan pesawat. Meskipun jadwal keberangkatan baru pukul 10.30 namun, mengingat hari ini adalah hari kerja, bisa dipastikan jalan sangatlah macet. Perhitungan saya perjalanan menuju Soekarno-Hatta bisa memakan waktu hingga 2 jam, bahkan lebih. Perhitungan saya sangat pas, bayangkan dari pasar minggu hingga masuk tol saja memakan waktu 2 jam, untunglah begitu masuk tol, setengah jam kemudian bis yang saya tumpangi tiba di bandara. Tidak menunggu, saya langsung ke kantor Batavia Air untuk menukar kode booking dengan tiket, namun karena alasan komputer sedang error akhirnya saya diperbolehkan check in hanya dengan menggunakan kode booking. 🙂

Tidak lama menunggu, para penumpang diperbolehkan menaiki pesawat. Saya sangat senang karena nomor bangku yang saya dapat adalah 6F yang berarti di dekat jendela. Entah sejak kapan saya senang dengan bangku yang berada di sebelah jendela. Menikmati pemandangan dari atas sangatlah mengagumkan :). Nakalnya saya hari itu adalah, saya tetap mengaktifkan handphone saya, namun dengan setting airplane mode, seharusnya tidak mempengaruhi sistem nafigasi pesawat, saya berharap begitu. Saya memanfaatkan kamera hp untuk memotret jakarta dari atas. Hahhaha lumayan meskipun dengan kwalitas gambar yang pas-pasan. Semoga tidak berpengaruh pada keselamatan pesawat, amin 😛

Sampai di bandara Hanandjudin Tanjungpandan, saya sudah dijemput oleh si adik, Yogi. Perjalanan dari bandara hingga rumah memakan waktu sekitar 30 menit. Cuaca hari ini berawan. Menyenangkan 🙂

Saya harap pulang kali ini membawa hal-hal yang baik buat saya, terutama bisa jalan-jalan, horeeeee !! ;P

Advertisements