Belitung, 21 Februari 2012

Hari ini, saya masih belum terbiasa dengan perubahan kebiasaan. Jika di Jakarta saya biasa tidur larut dan bangun sedikit siang, di sini pukul 10 malam keadaan di luar sudah mulai sepi, alhasil saya mesti tidur lebih cepat kalau tidak mau jadi orang yang melek sendirian di rumah. Paginya saya mesti bangun lebih pagi karena kesibukan di rumah. Tidak tega rasanya membiarkan si emak bekerja sendirian di rumah sebelum beliau pergi bekerja.

Hari ini ada sepupu saya bersama seorang temannya datang dari Jakarta menginap di rumah, jadi rumah saya lebih ramai lagi 😛

Saya berkunjung ke rumah tante yang saya pangil Mak Wie bersama si emak sore ini. Ada beberapa hal yang pengen si emak bicarakan katanya. Setelah melepas kangen dan mencicipi beberapa kue yang ia buat, kami pun pulang.

Sore tadi setelah pulang dari rumah mak Wie, saya pergi ke pantai terdekat bersama adik perempuan saya yang baru duduk di bangku kelas 4 SD, Virda. Tujuan saya adalah pantai Tanjung Pendam. Pantai ini tidak terlalu jauh dari rumah. Dengan tiket masuk 2000 rupiah, kita sudah bisa menikmati suasana pantai di sore hari. Sambil menanti sunset, saya dan si adik berjalan-jalan menyusuri pantai sembari menyaksikan orang-orang turun kepantai untuk mencari kerang (keremis) dan sejenis cacing laut, masyarakat sini menyebutnya kijing. Menurut yang saya dengar, Kijing dan Keremis ini sangat enak bila dimasak. Caranya mencari kijing susah-susah gampang, yaitu dengan menggunakan sebatang lidi yang ujungnya diolesi dengan kapur sirih, lalu lidi tersebut dimasukan kedalam lubang, jika di dalam lubang tersebut terdapat Kijing maka, setelah lidi dicabut, keluarlah si Kijing. Kata seorang bapak yang saya temui disana, bentuk lubang Kijing seperti lubang kunci. Cukup lama saya mencari lubang seperti yang dimaksud si bapak namun, saya tetap tidak menemukannya –_–

Ketika adik saya mengorek-ngorek pasir untuk mencari keremis, dengan sedikit kaget dia bilang ke saya kalau pasirnya bergerak-gerak. Karena penasaran saya mengorek pasir semakin dalam. Kira-kira sedalam 5 cm dari permukaan tanah, saya menemukan mahluk aneh berbentuk bulat, berwarna abu-abu gelap, dengan tanduk panjang berwarna hitam yang ujungnya runcing (belakangan saya tahu bahwa itu adalah ekornya). Saya sedikit takut awalnya. Namun menangkap gelagat tidak berbahaya dari sang hewan yang tidak terlihat seperti ikan itu, saya memberanikan diri memegang ekornya dan mengambil beberapa foto mahluk aneh ini. 🙂

Advertisements