‘Mbolang’

28 Februari 2012 Aku dan Kakiku

Huraaaayyy…setelah sekian lama membulatkan tekat untuk “membolang”, akhirnya niat baik nan luhur itu tercapai hari ini. Sedari pagi saya sudah menangkap gelagat baik dari ciptaan Tuhan, sang penguasa siang, Matahari. Pagi ini, sang raksasa merah sudah senyam-senyum genit ke saya sembari menggoda, “ayooo ngebolang yuukk”. Lantas sayapun menjawab, “AYOOOOOK!” 😛

Setelah menyiapkan bekal nasi goreng yang saya masak sendiri dan sebotol sirup rasa jeruk, serta membawa kamera, sayapun bergegas berangkat dengan hati berbunga-bunga. Sengaja saya menyiapkan bekal, agar tidak kelaparan saat sedang berkelana. Hahaha

Jam menunjukan pukul 08.20. Memacu motor dengan kecepatan sedang seorang diri sembari bernyanyi-nyanyi mengikuti suara penyanyi yang keluar dari earphone di kuping saya, cukuplah membuat hati saya bahagia. Sinar matahari pagi yang lumayan menyengat tidak menghalangi niat hati saya hari ini. Sedikit kesiangan jika niat saya ingin memotret sebenarnya, sinar matahari pastilah terlalu terik nanti tapi, tak apalah karena saya memang baru bisa berangkat jam segini karena, sedari pagi buta saya menanti kebaikan hati adik saya Yogi, untuk menemani namun, sang adik nampaknya terlalu nyaman berada di bawah selimut, sehingga dengan teganya dia mengatakan, “pergi sendiri sana, aku ngantuk!”. Dasar adik kampret! -_-

Setelah kurang-lebih 30 menit di atas motor, saya pun tiba dengan selamat sehat wal’afiat di Tanjung Tinggi.

Setelah memarkir motor, saya bergegas menyelinap di antara batu-batu sebesar “gaban”  di pantai ini. “Clik-clik”, suara dari si kamera di depan muka saya dan hamparan pasir putih serta birunya laut menambah semangat saya untuk menjelajah lebih jauh lagi batu-batu di sudut kanan pantai Tanjung Tinggi ini. Sambil tetap menjaga keseimbangan, saya melompat dari batu satu ke batu yang lainnya. Meskipun saya ga pintar motret, tapi saya menikmati sesi pemotretan dengan model batu-batu seksi ini, apalagi sensasi naik turun batu ini lumayan menyenangkan dan berhasil memaksa saya untuk berolahraga pagi.hahaha

Sayang sekali, masih banyak terdapat coretan-coretan tangan ga bertanggung jawab di batu-batu ini. 😦

Ga banyak hal yang terjadi sepanjang saya di Tanjung Tinggi, kecuali satu kejadian yang membuat saya ingin tertawa sekaligus takut dan berhasil membuat saya lari pontang-panting. Saya sedang asik bernyanyi-nyanyi sendiri sembari berniat mencapai daerah yang sedikit asing bagi saya. Tiba-tiba senadung saya terhenti, saya kaget karena di hadapan saya ada dua ekor anjing liar yang lucunya juga kaget dengan kehadiran saya. Tadinya posisi mereka sedang tidur-tiduran (apa berjemur kayak bule-bule ya?) di pasir di antara batu-batu besar namun, karena kaget dengan kedatangan saya, mereka yang tadinya selonjoran (jiaah dikata orang kali..), langsung setengah berdiri (berdirinya anjing dengan 4 kaki yah ;p ), sambil menatap saya. Saya yang kaget, sambil senyum kepada mereka (anjing disenyumin -_- ), mundur perlahan dan segera ambil langkah seribu, kabur. -__- Serem.. gimana kalo saya dikejar dan digigit? Alamak kasian amat nasib si bolang kali ini. Secara ga mungkin ada yang bakal nolongin saya walaupun saya teriak dengan suara 8 oktaf karena, ga ada siapa-siapa di sana, cuma saya, benar-benar cuma saya sodara-sodara. Kecuali ibu-ibu penjaga warung yang keberadaannya jauh entah dimana. Untunglah ternyata anjing-anjing itu baik hati dan tidak sombong, mereka rupanya ga mengejar saya, mungkin mengira saya anak ilang yang sedang mencari emaknya. Apalagi tadi mereka sudah saya kasih senyum manis, manis semanis-manisnya, memang begitulah seharusnya sikap mereka ke saya. -___-‘ (tiba-tiba saya merasa beruntung masih sempat senyum ke mereka tadi #dilemparbatusegedegaban -_-‘)

Puas menjelajahi batu-batu yang terdapat di sebelah kanan tanjung tinggi, saya beranjak ke wilayah kiri. Di sini merupakan tempat favorit saya karena, ada sebuah tempat, kalau boleh saya bisa bilang kolam. Posisi batu-batu yang mengelilingi wilayah ini membentuk sebuah kubangan air laut yang berbentuk layaknya kolam. Dulu saya pernah berenang di tempat ini. Kalau air sedang pasang, kolam ini akan dipenuhi air laut setinggi dada.

Jangan tanya seberapa inginnya saya berenang, sangat-sangat ingin namun, dikarenakan ga akan ada yang menjaga barang-barang saya, maka niat ini saya simpan saja sembari ngendumel seandainya tadi si adik ikut. -_-‘

Puas menyimpan gambar-gambar batu dan pantai membuat saya berfikir seandainya ada si adik, mungkin saya dengan sangat tidak keberatan menjadi objek foto selajutnya. Namun, apalah daya saya, daripada ga ada satupun foto saya, padahal saya sudah dengan susah payah mencapai tempat ini (lebay -_-) jadilah si kaki menjadi sasaran selanjutnya. Prinsip saya, daripada tidak sama sekali. 🙂

Jadilah kaki saya nan buruk rupa karena digigit Agas (Serangga penghisap darah seperti nyamuk namun lebih kecil, umumnya ada di pantai ) selama saya berada disini, menjadi objek foto. Dengan tidak berprikekakian saya mengeksplor kemampuan kaki saya untuk berpose…hahahhaha

Ga ada manusia normal yang ga kelaparan apabila sudah mengeluarkan tenaga ekstra seperti saya tadi. Karena saya manusia normal, dan kebetulan saya sudah bawa bekal jadi, sayapun  mencari lapak untuk memenuhi kebutuhan si perut yang mulai keriuk-keriuk. Maka, dalam hitungan menit berakhirlah nasib nasi goreng di kotak bekal tadi. 🙂

Sebelum pulang, saya sempatkan mengambil pasir di pantai ini, niat saya, suatu hari saya ingin mengumpulkan pasir-pasir yang ada di Indonesia. Salah satunya pantai di Belitung. Ga banyak, karena saya ga berniat membangun rumah dengan pasir ini, cukuplah sebanyak 1 botol air mineral sedang untuk saya bawa sebagai tanda mata.
Lalu, sayapun berkemas dan melanjutkan sesi “bolang” kali ini…

Advertisements